Home » , » PPM DAN SILATURAHMI KAMPUNG NAGA

PPM DAN SILATURAHMI KAMPUNG NAGA

Written By perbandingan agama on Minggu, 27 November 2011 | 01:34

Pada 25 km menuju Garut udara semakin dingin saja. Kabut masih sedikit menyelimuti jalan, dan ditabrak apa saja yang lewat.  Angin menampar-nampar dari celah jendela mobil yang sengaja dibuka, tapi tetap saja penghuni mobil sibuk dengan dunianya sendiri, suasana terpecahkan  oleh mereka yang menyanyikan lagu indonesia raya, mengundang jiwa nasionalisme penumpang lainnya, hingga lagu-lagu nasional pun menemani perjalanan kami, yang ternyata lagu-lagu itu tidak terkuasai dengan baik.
Kampung Naga sudah di depan mata, perjalanan ditempuh dengan jalan kaki menyusuri tangga yang lumayan panjang, ada yang sempat menghitung jumlah anak tangga, hitungan mereka mengatakan kalau anak tangga berjumlah 450 buah. Aroma alam tercium mulai dari tangga pertama, gemuruh sungai pun menyambut kedatangan kami.
Rumah perkampungan mulai tampak, atap-atap tradisional  terbuat dari ijuk, rumah-rumah berbilik bambu, empang-empang yang pertama terlihat terlihat sejak memasuki kawasan tersebut, tampak juga jemuran padi disekitar rumah. Selain itu ada juga remaja berpakaian seragam warna biru, mungkin itu anak sekolah, dan semakin kedalam padi yang dijemur semakin banyak.
Entah kenapa di sebut kampung naga, mungkinkah ada satu mitos yang menyebabkan kampung itu disebut kampung naga? Ataukah hanya sebutan yang tidak bermakna? dan apakah keaslian kampung naga masih ada ketika  pemancar televisi, sebagai tanda kemodernitasan ada di depan rumah mereka?
Kampung naga berada di daerah Neglasari kecamatan Salawu kota Tasikmalaya. Daerahnya mempunyai luas tanah sekitar 1ha, daerah itu tidak boleh ditambah lagi luasnya, sebelah wetan  ada sungai Cibulan yang menjadi batas wilayah Kampung Naga dan kampung lainnya. Jiwa yang tercatat ada 314 jiwa,tercatat dari usia 6 thn. Mata pencahariannya adalah menanam padi  yang dipanen sebanyak 2x dalam setahun. Yaitu bulan 10 (oktober) dan bulan 11 (November). Dan hasil panen yang diperoleh jarang mereka jual. Untuk penghasilan tambahan mereka menjual kerajinan tangan, kerajinan tangan itu berupa tas, bros, topi, dan aksesoris lainnya yang kebanyakan terbuat dari bambu dan batok kelapa.
Adapun nama kampung naga ini diambil dari letak geografisnya, kampung ini dikelilingi oleh tebing-tebing yang tinggi, yang dalam bahasa sunda tebing itu disebut gawir, maka kampung naga sendiri mengambil nama dari posisi mereka yang berada nagawir. Dengan mengambil nama awalnya saja yaitu naga. Maka disebutlah kampung itu kampung Naga.
Ada 2 lembaga yang mengatur perkampungan Naga ini yaitu lembaga formal dan non formal. Lembaga formal diduduki kepala dusun dan ketua RT, sedangkan lembaga non formal yaitu kuncen yang bertugas sebagai pemangku adat, mengatur upacara yang dilaksanakan 6x pertahun pada bulan-bulan tertentu, yaitu bulan muharam,bulan mulud, bulan jumadil akhir, nisfu sya’ban, idul adha, dan idul fitri. Kemudian ada yang dinamakan Lebe. Lebe bertugas sebagai sebagai sesepuh, yang mengurusi warga seumpanya ketika ada yang meninggal, saat ini lebe dikepalai oleh Bp. Ateng Jaelani. Dan lembaga non formal terakhir adalah Punduh, punduh ini bertugas mengayomi warga.
Rumah-rumah mereka tidak ada yang menggunakan batu bata, material yang digunakan hampir semuanya dari alam, seperti rotan dan kayu serta atap ijuk. Bangunan rumah mempunyai pintu yang berhadap-hadapan, antara tetangganya. Hal ini dimaksudkan tidak lain agar persaudaraan dan sosialisasi bisa mudah mereka lakukan. Kampung ini juga tidak ingin menggunakan listrik dengan alasan material bangunan rumah mereka banyak yang mudah terbakar, dan banyak informasi-informasi yang mereka dapatkan kalau pemasangan listrik saat ini banyak yang kurang hati-hati  sehingga tidak jarang ada pemasangan yang salah dan menyebabkan kebakaran.
Pendidikan yang didapat oleh anak-anak dari kampung naga ini hanya sampai Sekolah Dasar, dan sangat jarang yang melanjutkan ke jenjang SMP ataupun SMA.
Kampung naga ini juga mempunyai beberapa kesenian tradisional, diantaranya Seni Bela Diri yang tidak disebutkan namanya, seni terebang gemblung yang biasanya digunakan saat upacara-upacara formal dan terebang sejak dan angklung yang digunakan dalam hiburan-hiburan tidak formal.
“Kampung naga saat ini bukanlah kampung naga yang sangat asli, karena kampung naga yang asli telah dibakar oleh para penjajah dan tulisan-tulisan  serta segala benda pusaka telah dibakar DI TII” ujar pak Ateng. Pak Ateng juga mengatakan kalau penduduk kampung naga yang asli sudah tidak ada lagi, yang bertahan di kampung ini bukanlah orang-orang asli kampung naga. Tetapi kebanyakan mereka adalah pendatang yang menikah dengan orang kampung naga.
Air-air bersih dibiarkan mengalir begitu saja, seperti tidak takut kehabisan atau kekeringan air dan tidak disumbat dengan keran seperti yang dilakukan di kota-kota. Tidak lain karena alam mereka biarkan bebas, alam mereka jadikan sahabat, maka alampun bersahabat dengan mereka.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BEM JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger