Home » , » Ngawangkong tina tulisan “Aing Vs Batur”

Ngawangkong tina tulisan “Aing Vs Batur”

Written By perbandingan agama on Selasa, 22 November 2011 | 05:48

oleh : Rahman Hadi Saputra
 
Kehela, ulah waka ngabahas nanaon hela, abdi dek curhat heula ka para peserta osaba 2011. Aing baheula pernah kapikiran, naon bedana aing jeung batur.
Teuing tah maraneh sarua teu ayeuna mikir siga abdi baheula. Hampura eui da abdi mah jelma anu osok mikir, jadi resep ngawangkong kaditu kadieu. Jadi, bisi maneh jelmana anu teu resep ngawangkong, berarti maraneh jelema anu teu mikir, hidup ngan saukur dahar, sare, jeung ulin, geus weh maot ari sarua jeung sato mah.
Abdi apal lah jeung kudu diakui oge ku maraneh soal asupna kadunia para kesatria Tuhan (ngan lain templar), betul teu kabanyakan ti maraneh teh jelma anu kasesat kadieu teh (asup Jurusan Perbandingan Agama). Aya anu kasesat gara-gara beasiswa, aya deui gara-gara euweuh jurusan anu narima maraneh, aya deui gara-gara babarutan anu kuliah di jurusan perbandingan agama (etage babaturan maneh nu nyesatkeun maneh teh, sarua jeung maneh awalna tersesat oge), jeung anu lainna.
Ngan maraneh ulah leutik hate, ketika urang sarerea bisa ngajawab pertanyaan anu dipikirkeun ku urang baheula. Soalna tina jawaban eta teh urang bisa ngabedakeun saha urang sebagai mahasiswa perbandingan agama jeung saha batur ti jurusan lain.
Duh hampura, kira-kira sapanjang jalan ti UIN ka imah abdi, mikiran jawaban ieu rieut oge. Da euweuh bedana abdi jeung babaturan abdi anu beda jurusan jeung abdi malahan rieut. Kusabab jelma anu aya dijurusan perbandingan agama teh leuwih ancur ti jurusan anu lain, contona alumni jurusan perbandingan agama anu kamari stres neangan gawe, jeung anu lainnalah. Kamungkinan geus suratan takdir abdi asup kadieu, Allah ngutus abdi asup ka jurusan perbandingan agama dengan tujuan ngarubah Perbandingan agama supaya bermanfaat ker masyarakat, nyak khususna masyarakat Pe-A jeung umumna keur masyarakat UIN eSGeDe BeDeGe.
Ges abdi ngadangu mahasiswa hayang diajar sorangan, abdi geus tara ningali deui kosan mahasiswa sibuk jeung babaturanna diskusi, ieu anu geus leungit ti mahasiswa. Pagawean mahasiswa ayeuna maen PeeS, sibuk nulis status FB, ah lobalah.
Pangaruh ti globalisasi lah anu nyebabkeun karakter mahasiswa terkikis, komo deui dunia gemerlap malam alias dugem geus jadi aktifitas mahasiswa anu loba duit.
Dihandap aya saeutik tulisan anu nerangkeun karakteristik mahasiswa, ieu kanyaho urang tinu pangalaman selama 7 tahun ti PII. Jeung salah satu cita-cita urang di HIMA-Jurusan Perbandingan Agama.

a.    Mahasiswa sebagai subjek pendidikan[1]
Bidang pendidikan mempunyai posisis yang amat strategis utuk mengubah dan membangun masyarakat. Rekayasa peradaban sebagai salah satu jalan dalam perubahan dan pembangunan masyarakat memerlukan kesiapan anggota masyarakat yang bersangkutan. Anggota masyarakat dituntut memiliki kesiapan dan kemampuan antara lain : daya adaptasi terhadap nilai-nilai baru, kreatifitas untuk melakukan upaya inovasi dan daya saing untuk tetap eksis ditengah arus perubahan global yang terjadi. Kemampuan dasar diatas dipersiapkan dan dibentuk melalui proses pendidikan.
Pendidikan berfungsi sebagai agen perubahan sosial dalam arti akan berlangsung penyiapan sumber daya manusia sebagai pelaku dan pelopor perubahan sosial tersebut. Perubahan ini dimaksudkan untuk membangun masyarakat baru yang lebih baik dan sempurna. Pendidikan akan memberikan bekal secukupnya pada setiap individu untuk mempersiapkan diri dan berkembang sesuai dengan potensi diri dan lingkungannya.
Menjadikan karakteristik mahasiswa sebagai subjek pendidikan, menunjuk pada konsep pendidikan yang mendewasakan, dimana mahasiswa diposisikan sebagia pihak yang harus memberikan andil terbesar dalam proses pendidikan itu sendiri. Artinya, ada kesadaran yang mandiri pada diri setiap mahasiswa utnuk memberikan partisipasi dalam proses belajarnya di semua lingkar pendidikan : keluarga, kampus dan masyarakat. Partisipasi aktif mahasisiwa dalam melakukan daur belajarnya dikeluarga, sekolah dan masyarakat akan memunculkan aktifitas yang dinamis yang tumbuh dari kesadaran diri sendiri akan tanggung jawabnya sebagai subjek pendidikan.
b.   
Mahasiswa sebagai subjek kebudayaan
Kebudayaan sebagai salah satu fondasi dasar kemasyarakatan menjadi salah saru ukuran kualitas anggota masyarakat. Kebudayaan merupakan cermin dinamika individu dan kelompok dalam masyarakat yang secara dialogis berproses salam aktualisasi kehidupan. Untuk itu jika akan merubah dan membangun masyarakat, kebudayaan merupakan pintu pertama yang harus dilewati. Melakukan perubahan secara gradual terhadap kebudayaan masyarakat berarti telah melakukan perubahan terhadap masyarakat.
Ada dua pengertian tentang kebudayaan, yaitu kebudayaan sebagai produk dan kebudayaan sebagai proses. Kebudayaan sebaga produk adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia berupa keseluruhan yang komplek yang termasuk didalamnya  produk-produk pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat, dan segala kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dalam pengeritan ini kebudayaan meskipun diciptakan manusia adalah bersifat eksternal, determenistik dan objektif terhadap manusia dan masyarakat. Sementara dalam pengertian proses, kebudayaan menunjuka pada keseluruhan gagasan dan karya manusia yang dibiasakannya melalui proses belajar (becoming process) yang teraktulasisasi dalam tatanan struktur kemasyarakatan. Dalam pengerian in kebudayaan adalah suatu proses yang terus menerus, peran subjek (manusia) sangat signifikan, dan voluntaristik. Untuk memahami kebudayaan secara utuh, kedua pemahaman ini tidak bisa dipisahka.
Menjadikan karakteristik mahasiswa sebagai objek kebudayaan merupakan penegasa tentang perlunya menumbuhkan kesadaran kritis (critical conciousness) pada diri mahasiswa terhadap adanya kooptasi budaya massa (mass culture). Artinya, mahasiswa sebagai tulang punggung bangsa, harus memiliki kesadaran dan daya apresiasi secara kritis terhadap berbagai bentuk kebudayaan yang ada. Dan akhirnya, mereka mampu menentukan corak dan warna kebudayaan yang diyakininya. Pada tingkatan yang lebih tinggi, mereka mampu mengantisipasi budaya global dan mampu pula melakukan counter culture,  dengan menciptakan budaya tandingan (alternatif) yang sesuai spirit nilai-nilai islam dan dengan konteks jaman.

c. Mahasiswa sebagai subjek transformasi pendidikan dan subjek transformasi kebudayaan.
Mahasiswa harus memiliki karakter yang dapat bertindak sebagai subjek transformasi pendidikan dan kebudayaan itu sendiri. Dimana sistem, model dan bentuk pendidikan dan kebudayaan yang benar diyakini sesuai dengan nilai-nilai spirit dan moralitas islam itu harus mereka transformasikan kepada masyarakat khususnya dalam lingkup dunia mereka sendiri. Hal ini akan membuahkan metode trasformasi yang efektif, karena dilakukan oleh mereka yang memiliki karakter dan bangun dunia yang sama; serta memiliki kaitan psikologis dan intelektual yang relatif erat. Menjadikan karakteristik mahasiswa sebagai subjek transformasi pendidikan dan kebudayaan ini, sekaligus juga akan menjadi alat ukur yang tepat, sejauhmana mereka memiliki komitmen sosial dan moral sebagai transformator atas nilai-nilai pendidikan dan budaya yang mereka peroleh sebelumnya dari daur belajar yang dilakukan. Serta berkesempatan untuk melakukan implementasi nilai-nilai tersebut lebih luas di luar dirinya, karena mereka harus mentranformasikannya pula kepada orang lain.

d.    Kepelajaran sebagai intelektualisme (kultur belajar)
Pendidikan seumur hidup (long life education) telah dikenal umat islam dari risalah Rasulullah SAW. Sejak 14 abad yang lalu. Konsekuensinya, daur belajar adalah proses yang tidak pernah berhenti sejak manusia dilahirkan dari rahim ibu hingga tiba saatnya dikirim ke liang lahat. Dengan demikian, semangat kemahasiswaan merupakan semangat yang asasi ada dalam ajaran islam.
Menjadikan intelektulasime (kultur belajar) sebagai komitmen sepanjang usia, penting dilakukan. Karakter ini harus terus dijaga, tak hanya saat masih aktif menjadi kader mahasiswa Perbandingan Agama melainkan juga ketika telah menjadi kader umat di lain tempat. di lingkunga Perbandinga Agama sendiri, intelektualitas harus menjadi karakter kader yang dibangun melalui berbagai macam program; terutama denga mentradisikan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada penguatan intelektual, misalnya ; melalui forum-forum diskusi, kegemaran membaca dan berlatih menulis gagasan secara ilmiah, serta berbagai aktifitas lain yang berbuah terhadap pencerahan akal-budi dan intelektualitas baik dirinya sendiri maupun orang lain. Denga aktifitas-aktifitas ini pul diharapkan konsistensi intelektualitas itu tetap terjaga.
Pada akhirnya, karakteristik kemahasiswaan mensyaratkan penciptaan kultur belajar yang memadai di Perbandingan Agama. Secara kelembagaan, HIMA-jurusan harus mampu mengantarkan kader-kadernya sebagai intelektual yang memiliki semangat belajar yang tinggi, mempunyai sosial (keumatan) yang kuat, dan responsif terhadap problematika aktual masyarakat di sekitarnya.


[1] Toleransi ka jalma anu teu apal bahasa sunda
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BEM JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger