Home » , , , » Dialog Peradaban

Dialog Peradaban

Written By perbandingan agama on Minggu, 11 Desember 2011 | 20:24

oleh : Ari Farizal Rasyid

”Obrolan yang dilakukan oleh K. H. Abdurrahman Wahid Alm. (Mantan Presiden dan ketua umum Pimpinan Pusat Nahdatul Ulama) atau yang biasa dipanggil Gus Dur dengan Dr. Deisaku Ikeida (presiden kehormatan Soka Gakkai Internasional) merupakan obrolan yang luar biasa mengenai sistem sosial bagi seluruh umat manusia di dunia khususnya masyarakat Indonesia dan Jepang. Dialog peradaban melalui kebudayaan yang dibukukan setahun terakhir merupakan sebuah contoh orang-orang yang berintelektual tinggi dan mencerminkan bahwa semakin cerdas dan luas wawasan keilmuan seseorang, akan mampu menembus tembok-tembok penghalang yang ada pada setiap manusia terutama perbedaan dalam sistem kepercayaan (agama). Seseorang yang mempunyai tingkat intelektual tinggi dan wawasan yang luas, serta keterbukaan pemikiran akan mampu menghindari permusuhan atau pertikaian apalagi sampai terjatuh pada tingkat kekerasan, saling mencemooh bahkan saling menyakiti. Sebaliknya, mereka akan saling memahami antara perbedaan tersebut bahkan saling belajar dan mengambil semua yang baik dan patut dicontoh dari budaya yang lain seperti yang dilakukan oleh kedua orang luar biasa tersebut”. Demikian sekilas intisari yang dapat saya ambil dari acara “Dialog Peradaban Melalui Kebudayaan” yang digelar pada hari minggu 11 Desember 2011 pagi di festival citylink, Bandung. Dengan pembicara Ibu Alisa Wahid (Putri sulung Gus Dur Alm.), Peter Nurham (ketua umum Soka Gakkai Indoneia), pendeta Albertus Patty (PGI), Romo Beni Soesetyo (KWI)
Menurut saya, dialog yang mengangkat tema peradaban dan kebudayaan seperti ini bukan menjadi hal yang tabu lagi untuk saat ini terutama di kalangan para intelektual-intelektual yang bergerak pada bidang sosial ekonomi. Sebenarnya, peradaban seperti apa yang pada saat ini secara riil dijalani oleh masyarakat Indonesia. Banyak orang yang mengatakan bahwa Indonesia itu kaya bahkan Negara lain pun mengakui kekayaan alam Indonesia. Tapi kenyataanya, “PBB menyatakan bahwa Indonesia mempunyai peringkat paling rendah dari 142 negara dalam kesejahteraan rakyat” ucap ibu Alisa Wahid pada acara dialog tersebut. Masih banyak orang-orang miskin, gelandangan, pengemis anak-anak jalanan yang tersebar dan semakin merajalela di tanah air Indonesia.
Indonesia yang katanya sudah sudah menyatakan kemerdekaanya dan diakui juga oleh Negara lain, ternyata masih terjajah dalam peradabannya. Peradaban yang carut marut dimana yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin tergerus oleh ketamakan manusia bodoh dan termanjakan oleh rasa pasrah dan menerima seadanya dan tak mau berusaha. Peradaban bukanlah milik agama atau kebudayaan, tapi agama dan kebudayaan adalah bagian daripada peradaban tersebut, termasuk perekonomian, intelektual dan karya.
Indonesia memiliki banyak kebudayaan dan agama yang berbeda didalamnya, tapi mengapa dari dulu Indonesia tak pernah bisa menjadi Negara maju, malah terus jalan di tempat dalam perkembangan yang sebenarnya tak pernah berkembang. Agama seharusnya mampu menjadi jawaban dari semua masalah yang ada. Indonesia mempunyai alam yang kaya, Indonesia mempunyai kebudayaan yang beragam dan yang lebih berpengaruh, Indonesia mempunyai berbagai agama yang hidup berdampingan.
Saya yakin, semua agama mempunyai tujuan dan sistem sosial yang sebenarnya bisa bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat apabila diamalkan. Seperti agama Islam yang mempunyai konsep zakat, qurban dan sodaqoh agama Kristen dengan konsep cinta kasihnya agama Budha dengan konsep damainya dan agama lainya yang saya yakin menyerukan juga pada sesuatu yang positif. Tapi pada kenyataanya sampai sekarang Indonesia masih tetap dihantui oleh kemiskinan dan ketamakan yang tiada hentinya. Lalu, apakah kebanyakan orang-orang beragama hanya sebagai formalitas saja? Apakah agama hanya sebagai kedok untuk untuk mengumpulkan dukungan saja? Mungkin dua pertanyaan sederhana ini bisa menjadi perenungan kita semua sebagai manusia yang beragama.
Kondisi psikologis dan mental generasi muda juga sepertinya harus menjadi tugas kita semua, yang pada saat ini generasi muda dan kita semua telah dicekoki oleh budaya-budaya hedonis yang menjadikan mental generasi penerus Indonesia terkikis habis, sehingga yang tersisa adalah sebuah kesengsaraan abadi dan kebahagiaan semu yang terjadi begitu singkat.
Saat ini mari kita mulai memperbaiki budaya yang seharusnya tidak dibudayakan dan membudayakan yang seharusnya dibudayakan demi kemajuan peradaban masyarakat Indonesia. Ketertarikan Budaya membaca yang sudah mulai pudar dikalangan kebanyakan generasi muda karena tergeser oleh sajian televisi yang lebih menarik atau fasilitas internet yang saat ini mudah diakses dimana saja dengan menyalahgunakan pemanfaatan yang sebenarnya. Anak kecil dibawah umur yang tidak lagi menyanyikan lagu anak-anak tetapi menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang bertemakan cinta, pengkhianatan dan hal lain yang belum saatnya diketahui anak kecil sehingga dapat merusak mental dan moral generasi muda Indonesia. Mari renungkan, mencari solusi dan bergerak untuk menyelesaikanya.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BEM JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger