Home » , , » diskusi : Budaya sunda

diskusi : Budaya sunda

Written By perbandingan agama on Kamis, 22 Desember 2011 | 17:31

Pemateri : Busro
Kebudayaan itu materinya masih luas, jadi kita akan mempersempit lebih ke kebudayaan sunda itu sendiri. Karena kita sekarang sedang berada di wilayah sunda.
Secara arti sunda ada yang berpendapat “bagus”, “baik”, “cemerlang”, ada yang mengatakan itulah arti dari sunda sendiri. Makanya watak-watak orang sunda pada bageur kalau kata orang Cirebon. Cirebon walaupun itu masih ada di jawa barat, tapi menurut teori sosiologi Cirebon ada di wilayah transisi. Transisi disini dari segi budaya, yaitu budaya jawa dan budaya sunda. Maka dari itu, orang Cirebon sundanya tidak sunda, jawanya juga tidak jawa. Bukan berarti tidak punya kelamin, tapi itu keunikannya.
Dari budaya sunda ini, mungkin saya akan lebih mengacu pada seni-seni tradisional, dan permainan tradisional. Agar kita bisa kembali ke masa  kecil dulu. Mungkin banyak permainan-permainan tradisional yang sering kita mainkan. Dan sekarang, sudah tidak ada bahkan mungkin sudah hilang.
Waktu kecil permainan yang sering kita mainkan kalau di desa saya (Cirebon) menyebutnya hong-hongan, kalau di sunda mungkin namanya petak umpet, ada juga yang menyebutnya dengan istilah boy-boyan . aturan permainannya memakai pecahan genteng di tumpuk-tumpuk, ada yang jaga dan ada yang bersembunyi. Dari permainan seperti itu kita bisa mengambil hikmahnya. Kita diajarkan untuk bekerjasama dan lebih kreatif. Dulu kita mengenal ada mobil-mobilan yang terbuat dari bahan-bahan bekas, seperti kaleng susu, kayu dan sebagainya, dengan itu kita menjadi lebih kreatif.
Ada juga permainan seperti benteng-bentengan. Dimana ada dua kubu yang menjaga batu atau sejenisnya, cara permainannya kalau batu itu tersentuh oleh lawan berarti kalah, dan kalau kena berarti kita ditawan. Disitu kita bisa belajar kerjasama dan strategi juga.
Permainan biasanya ada yang menggunakan alat-alat, seperti engrang atau jangkungan. Engrang adalah permainan berupa alat yang dibuat dari bambu, yang biasanya panjangnya melebihi tinggi badan kita, diantara buku bambu itu dipasang dua penyangga untuk kita berdiri di atas 2 bilah bambu tersebut.
Yang lebih menarik dari permainan tradisional khas sunda, biasanya sering diiringi oleh nyanyian-nyanyian yang unik. Itu juga mengajarkan kita lebih untuk lebih kreatif.
Di bandung ada yang namanya komunitas Hong, komunitas yang berdiri pada tahun 2003 ini sudah berhasil mencari dan merekonstruksi kembali permainan tradisional anak-anak. Ada sedikitnya 200 permainan yang ada di komunitas Hong ini.
Kita langsung berlanjut kedalam diskusi, permainan-permainan yang ada di daerah masing-masing serta lagu-lagu yang mengiringi permainan tersebut.
Ani mengungkapkan kalau di daerah Ciamis ada permainan pecle, dan ada nama lain untuk pecle itu, Acep yang dari Bandung menyebutnya dengan nama sonlah. Pecle atau sonlah adalah salah satu permainan yang biasa dimainkan oleh perempuan. Biasanya permainan ini menggunakan media tanah yang diberi garis kotak-kotak, sebelah kanan lima kotak, dan sebelah kiri lima kotak. Dan alat yang lain yang digunakan adalah genteng yang dibentuk segi empat untuk menjalankan permainan itu.
Ada juga permainan yang dinamakan gatrik, gatrik adalah permaian yang menggunakan bambu yang dipotong kecil, kemudian disimpan ditanah dan di pukul dengan bambu yang lain. Busro menambahkan kalau di cirebon ada permainan yang dinamakan jeletotan. Untuk wanita ada juga permainan yang memakai karet yaitu sapintrong dan luncat tinggi. Khairudin mahasiswa asal Malaysia juga memiliki permainan yang dinamakan keong tiang, kalau orang sunda menyebutnya ucing sumput.
Nyanyian-nyanyian tradisional juga kita tidak boleh melupakannya, takutnya nanti bisa punah. Ada beberapa nyanyian tradisional yang biasa kita nyanyikan dalam permainan-permainan tradisional itu diantaranya:

*Perepet jengkol jajahean
Kajepet ---- jejeretean

*Cang kacang panjang anu panjang ucing

*Cingciripit tulang bajing kacepit
  Kacepit ku bulu pare
 Bulu pare memencosna

*Oray orayan luar leor mapay areuy
Tong kasawah parena eukeur beukah

*Cingcangkeling manuk cingkleung cineten
Plos ka kolong bapa satar buleneng

*Cang ucang angge mulung muncang dipapangge
Digogogan anjing gede
Ari gog gog cungungung

Ari : “ jadi intinya kita banyak sekali mendiskusikan kebudayaan-kebudayaan seperti ini. Kita hanya bisa berhenti dalam obrolan-obrolan seperti ini. Kita banyak kehilangan khazanah permainan sunda terdahulu. Jadi kalaupun memang kita  coba mendata, kemudian kita sebarkan kembali dan kita budayakan kembali. Sebaiknya ini dibawa ke perkotaan-perkotaan, karena yang saya lihat, tradisi ini sudah tidak ada lagi”

Busro : “tahun 1994 dan 1995an mungkin sudah hampir hilang dan sekarang tahun 2000an bahkan sudah hilang sama sekali disini”.

Ari : “keponakan saya  yang kecil, yang sekarang kelas dua SD, mainannya sudah main PS. Dan sekarang yang di Bandung anak umur empat tahun sudah ke warnet”
Fu’ah : “kira-kira kenapa sih yang seperti itu bisa hilang, sedangkan mereka kan anak kecil darimana mereka bisa terpengaruh?”

Busro : “serangannya itu lebih banyak daripada pertahanan, seperti media Televisi. Jujur saja ya menurut saya media televisi yang pertama menghancurkan, waktu dulu saya masih kecil sebelum ada TV, main di luar rumah masih sampai jam 9an. Apalagi kalau terang bulan dan malam minggu waktu libur sekolah kita biasanya bikin tenda. Walaupun ada cerita-cerita hantu tapi tetap keluar jam delapan jam Sembilan itu baru masuk rumah. Tapi sekarang gara-gara banyak TV dan hantunya makin banyak dan makin terkenal kita jadi merasa takut. Hantu saja sudah komersil”

Ari : “sekarang hantunya banyak yang seksi dan cantik, kalau dulu kita suka main polisi-polisian, anak kecil
sekarang lebih memilih main setan-setanan dan ingin jadi setannya karena setan sekarang cantik-cantik”
Sebenarnya ini hanya nostalgia dan membuat kami  ingin pulang ke kampung halaman.

Busro : “percuma di rumah juga sudah tidak ada”

Ari : “di daerah saya masih ada sedikit kebiasaan”

Fuah : “adanya paling ngadu gambar, BP-BPan, BP sekarang juga sudah hampir punah karena diganti dengan boneka Barbie”
di Negara tetangga kita Malaysia, yang merupakan saudara kita sesama rumpun melayu mempunyai permainan anak-anak yang hampir sama seperti Indonesia, seperti yang Khairuddin dan Fazil kemukakan.

Khairudin : “ di daerah saya Sabah, juga sama ada permainan injit-injit semut(kalau di daerah sunda kita menyebutnya dengan endog-endogan)”.
Kalau di Indonesia lagu untuk permainan itu

Endog-endogan peupeus hiji pre

Sedangkan di Malaysia lagunya seperti ini

Injit-injit semut siapa sakit naik atas

Busro : “Sekarang mari kita berusaha mengingat-ngingat kembali permainan-permainan sunda dan nyanyian-nyanyiannya.”

Fuah : “permainan ini adalah permainan tangan, lagunya seperti ini

*mi mi mi mi
Mi atas mi bawah
Mi depan mi belakang
Mi ciut ciut ciut

Acep : “permainan ini dilakukan oleh tiga orang, dimana kaki mereka saling bersilang dan saling membelakangi, lagunya seperti ini

* Perepet jengkol jajahean
 Kajepet ---- jejeretean

Ari : “mungkin ini hanya nyanyi-nyanyian saja, lagunya gini :

*punten mangga, ari ga Gatot gaca, ari ca
  Cau ambon, ari bon Bonteng asak, ari sak
  Sakit perut, ari rut rujak asem, ari sem
  Sempal sempil, ari pil pilem rame ari me
  Meja makan, ari kan kantong kosong ari song
  Song song lampu, ari pu puak paok ari wok Wok berewok
*tung keripik due duit segepit
 Due sawah selumpit
 Due duit seketip

Khairudin : “aturan permainannya dengan menggunakan tangan yang ditepuk-tepuk berbalasan dengan teman, lagunya seperti ini : 

*assalamualaikum kum apa kumbet
Bet apa betmen, men apa mentol
Tol apa tolak, lak apa laksa
Sa apa sapi, pi apa pinang
Nang apa nangka, ka apa kayu
Yu apa you…

Ani : “permainan ini biasanya dipakai ketika permainan petak umpet, untuk menentukan orang yang berjaga. Caranya telunjuk orang yang akan bermain disimpan di telapak satu orang teman, sambil menyanyikan lagu, jika ada yang telunjuknya tertangkap, maka dia yang jaga. Dan lagunya seperti ini :

 *cingciripit tolalilobang
  Saha nu kajepit eta tunggu lawang

Iis : “permainan ini hanya  lagu yang kalimat terakhirnya biasanya dipraktekan, seperti jika ada kata “hormat” maka kita memperaktekan hormat, lagunya seperti ini :

*pa camat jualan tomat
Yang beli harus  hormat
Bu siti pake kacamata
Yang lihat jatuh cinta jatuh cinta

Mia : “permaianan ini semacam hompimpah, telapak tangan kiri dibuka teru ada seorang yang nunjuk pake jari. Lagunya gini :

*do Mikado es ka, es kado
Burung beo, cit cit cit satu dua tiga

Fazil : “permainan ini terdiri dari tiga orang, kita duduk sambil menselonjorkan kaki. Jika lagunya berakhir di satu orang, maka satu orang itu harus melipat kakinya, lagunya seperti ini:

*inumbang inumbang
Inumbang ku darado, darado bunga tapai
Bunga tapai mafia, mafia kalimando
Ku ku ---- pala

Dede : *surundeng puyuh ….
“lupa lagi lanjutannya”

Ucup : “mungkin ini hanya guyonan, jadi peraturannya dengan mematahkan jari sampai berbunyi. Kalau berbunyi berarti jodoh, kalau tidak bunyi berarti tidak jodoh. Lagunya gini :

*matematika ada orang jatuh cinta
Namanya Yusuf (nama orangnya bebas) kepada Uci
Setuju atau tidak

Dede :   “permainan ini adalah  permainan siapa paling cepat tangkap dalam menyanyikannya. Lagunya seperti ini: 

*punten mangga, ari ga Gatot gaca, ari ca
Cau ambon, ari bon Bonteng asak, ari sak
Sakit perut, ari rut rujak asem, ari sem
Sempal sempil, ari pil pilem rame ari me
Meja makan, ari kan kantong kosong ari song
Song song lampu, ari pu pulo bali ari li
Lian belut, ari lut lutung hideung ari deung
Deungeun sangu, ari ngu ngurus ucing ari cing
Cingcangkeling manuk cingkleung cineten
Plos ka kolong bapa satar buleneng

Busro : “di Cirebon juga ada, tapi permainannya saya lupa Cuma lagunya masih ingat. Tapi bahasanya juga bahasa Cirebon.

*unce unce aja geger, gegera kene
Gegera pasar gede , mbok miung
Mbok miung diderana wedus bando
dicaca neng bale Ranjang didudut jenggote embe

dan ada satu lagi, ini biasanya untuk mengejek pak haji, gini lagunya :

*dumbreng dumbreng wak haji nyolong dendeng
Dendenge ora enak, wak haji nyolong anak
Anake ora payu, wak haji kayu
Kayune ora garing, wak haji nyolong piring
Piringe ora pecah, wak haji nyolong becak
Becake ora mangkat, wak haji nyolong berkat
Berkat ora mambu, wak haji nyolong jambu
Jambu ora abang, wak haji nyolong sabrang
Sabrang ora pedes, wak haji diuwes uwes

Gelak tawa tak henti mengiringi diskusi malam tadi, kami diajak bernostalgia dengan masa lalu, dan ada juga yang merasakan sakit karena hal itu sudah tidak ada lagi saat ini. Kita mungkin masih mengalami permainan-permainan seperti itu, tapi anak-anak yang lahir pada tahun 2000an mereka sudah tidak mengalami lagi, sebab sudah ada permainan yang lebih modern, seperti PlayStation, Facebook dan sebagainya.
Budaya kita sekarang dalam perkuliahan banyak orang-orang intelek, kita menggali ajaran-ajaran agama lain, sedangkan agama sendiri ditinggalkan dan kurang mengenal. Begitu juga budaya sendiri sekarang, biasanya yang diteliti adalah budaya-budaya besar sedangkan budaya-budaya masa kecil yang merupakan awal dari terbentuknya budaya besar hampir dilupakan. Budaya kecil seperti ini adalah hiasan-hiasan rumah budaya-budaya besar, jika budaya kecil saja sudah tidak ada bagaimana kita bisa merasakan harumnya budaya yang besar. Salah satu cara menjaganya adalah dengan melestarikan lagi, seperti komunitas Hong itu.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BEM JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger