Home » , » Trend; Sebagai Representasi Media

Trend; Sebagai Representasi Media

Written By perbandingan agama on Rabu, 15 Februari 2012 | 15:22

Dewasa ini kita menyaksikan begitu banyak dan ragamnya fenomena budaya yang muncul dan sekaligus menunjukkan sikap arogansinya sebagai penguasa trend masyarakat. Sayangnya, fenomena budaya ini seringkali tidak bertahan lama dan senantiasa silih berganti dalam rentan waktu yang relatif cepat. Contoh kasus, di awal tahun 2000-an muncul sebuah film yang berjudul “Ada Apa Dengan Cinta”. Sontak beberapa waktu kemudian banyak anak perempuan Sekolah Menengah Atas (SMA) memakai seragam ketat dengan panjang rok di atas lutut.
Kemudian, saat ‘Ipank’ menampakkan dirinya di layar kaca dalam tajuknya yang berjudul “Realita, Cinta dan Rock’n Roll”, para anak laki-laki di beberapa daerah dan kota besar melakukan perombakan penampilan dengan memakai kaca mata hitam, jaket kulit, dan celana ‘beage’ yang terpasang ketat ditubuhnya. Saat memasuki tahun ke 7 abad millennium, muncul pula harajuku style yang diikut dengan cosplay jepang hingga tahun 2009. Dan di tahun 2011 ini, masyarakat dewasa dicengangkan dengan kehadiran K-pop yang berujung pada kehadiran fashion baru. 

 


Selama satu dekade ini telah terjadi perubahan yang begitu cepat, baik yang nampak maupun yang luput dari pandangan kita. Perubahan ini dapat dianggap terasa menyakitkan, karena kita seperti dituntut untuk terus melakukan perubahan tanpa henti, pada bagaimana cara kita hidup. Dengan kata lain, hidup kita seakan-akan dihabiskan hanya untuk memburu trend, mulai dari pakaian, gaya rambut, jenis handphone, mobil, hingga cara mengungkapkan rasa cinta.
Melihat fenomena ini, meminjam bahasa Karl Marx, trend saat ini sudah menjadi bagian dari ‘fetis’, yang seolah-olah memiliki unsur magis tersendiri. Tatkala kita tidak mengikuti trend tersebut, kita akan merasa temarjinalkan, tergusur dari orbit, dan terasing sendiri. Bahkan, ‘Tribun Jabar’ edisi 21 desember 2011 menampilkan judul “Habis Pulsa, Mati Gaya” dalam rubrik Teenagers-nya. Dalam berita tersebut didapati beberapa anak SMP yang setiap bulannya bisa menghabiskan pulsa hingga Rp. 75.000,- hanya untuk menggunakan aplikasi BlackBarry  Messenger (BBM), twitter dan facebook.
Lantas, Hal apa yang sebenarnya telah menjadikan sesuatu itu sebagai trend atau sebagai hal yang digemari oleh masyarakat secara massif? Banyak orang mengatakan, mulai dari para filosuf, para sosiolog, pemerhati culture studies, hingga masyarakat biasa sekalipun, berpandangan bahwa media (untuk mengungkapkan beragam teknologi digital yang dapat memberikan informasi secara massif) sebagai alat yang paling memungkinkan untuk menciptakan trend-trend tersebut.  Keith Tester, seorang sosiolog dari inggris mengatakan bahwa, “produksi budaya hari ini didominasi oleh media sampai ke tingkat di mana tidak ada aktivitas budaya atau produksi yang tidak tersentuh oleh media. media menampilkan segala sesuatu sebagai hal yang menarik pada dan untuk dirinya; media-media cenderung untuk menghancurkan kemungkinan bahwa sesuatu secara kualitatif lebih baik dari yang lain.”
Dengan kemampuan digital yang dimilikinya, media dapat mencitrakan sesuatu yang awalnya tidak begitu menarik menjadi sesosok yang paling digemari oleh masyarakat. Begitu juga sebaliknya, seseorang yang awalnya sangat digemari oleh masyarakat secepat kilat dapat berubah menjadi sesosok yang paling dibenci oleh mereka. Contoh konkrit mengenai hal ini terjadi pada ketua KPK terdahulu, Antasari Azhar. Di awal tahunnya menjadi ketua KPK, Antasari Azhar begitu dipertanyakan kredibilitasnya sebagai seorang pemberantas korupsi. Kecenderungan ini memang wajar, mengingat begitu banyaknya penegakan hukum atas kasus-kasus korupsi ini tidak pernah selesai tertangani. Masyarakat pun mulai berfikir bahwa para aparat penegak hukum ini sudah mudah terkena suap. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, Antasari dan kawan-kawan, melalui intitusi KPK-nya, mampu menjawab berbagai keraguan yang terjadi di tengah masyarakat. Hingga pada akhirnya dia sendiri berhasil menjadi ikon pemberantas korupsi di Indonesia.
Tidak lama kemudian, Banyak media memberitakan keterhubungan Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan seorang pengusaha kaya. Pembunuhan terencana ini diduga disebabkan oleh keangkuhan sang pemberantas korupsi yang ingin merebut istri simpanan pengusaha kaya tersebut. Setelah itu, masyarakat pun mulai berfikir ulang tentang sosok pemberantas korupsi yang mereka idolakan ini. Mereka mulai membenci dan menghujat sosok dan moralitasnya sebagai figur penegak hukum. Dari sudut pandang ini, Antasari Azhar senantiasa menjadi sentral perbincangan masyarakat Namun cara pandang masyarakat terhadapnya senantiasa mengikuti wacana yang ditampilkan oleh media.
Maka demikian, apa yang dikatakan oleh Keith Tester itu ternyata memang benar, “media-media cenderung untuk menghancurkan kemungkinan bahwa sesuatu secara kualitatif lebih baik dari yang lain”. Dan parahnya lagi, hal ini terjadi terhadap trend-trend masyarakat yang seringkali kita ikuti. Sebagai contoh, bandingkan celana beage yang terbuat dari jins dengan celana longgar yang terbuat dari kain! Celana mana yang akan kita pilih jika pertanyaannya adalah celana yang paling cocok untuk kita gunakan sehari-hari? Kita pasti akan menjawab celana beage yang terbuat dari jins. Namun, jika pertanyaannya adalah celana mana  yang lebih nyaman digunakan dan lebih praktis pada saat kita ingin menggantinya? Kita akan menjawab celana longgar yang terbuat dari kain.
Contoh tersebut membuktikan bahwa meskipun secara kualitatif celana longgar yang terbuat dari kain itu lebih baik ketimbang celana beage yang terbuat dari jins, kita tetap lebih memilih untuk menggunakan celana beage yang terbuat dari jins. Alasan yang umum adalah celana jins beage lebih memperkuat rasa percaya diri kita saat tampil dilingkungan masyarakat. Kesan yang mungkin muncul saat mengenakan celana jins tersebut adalah santai, gaul atau bahkan modern. Berbeda dengan pada saat kita menggunakan celana longgar berbahan kain. Kesannya adalah formal, kaku, kolot, tidak gaul, ketinggalan zaman dan lain sebagainya.
Di sini kita melihat bagaimana media bekerja dalam menghancurkan struktur nilai (kualifikasi) tertentu dan mencoba menyeragamkannya pada bentuk yang diinginkan oleh media itu sendiri. Seseorang tidak lagi memperdulikan seberapa jauh kualitas suatu produk, tetapi lebih melihat kecenderungan fetis yang dimiliki oleh produk tersebut. Fetis tersebut dibentuk dan disebar-luaskan oleh media ke dalam jaringan syaraf kita dengan beragam ‘teknologi simulasi’ (Jean Baudrillard) yang dimilikinya.   Fetis atau citra yang ditampilkan oleh produsen suatu parfum tertentu melalui suatu iklan misalnya, dapat menimbulkan suatu kecenderungan diantara masyarakat lelaki untuk berfikir, “Bidadari saja bisa lupa diri, apalagi cewek!?”.  Bahkan tatkala suatu produk shampoo memberikan pandangannya bahwa rambut adalah mahkota perempuan dan rambut yang baik/sehat adalah rambut yang hitam lurus dan tak bercabang, para perempuan pun mulai berlari ke salon-salon terdekat dan berusaha membuat rambutnya agar tampak mirip dengan apa yang mereka lihat di televisi.
Secara tidak sadar, kita menjadi lupa untuk menggunakan akal sehat kita. Bahwa tidak ada satu produk farfum pun di dunia ini yang bisa membuat perempuan terpikat, apalagi sampai membuat bidadari lupa diri.  Dan secara tidak sadar, kita pun sudah dibutakan dengan jenis rambut yang hitam lurus itu. Kita berfikir bahwa rambut yang berwarna kemerah-merahan, coklat, pirang dan berbentuk ikal, keriting serta bergelombang adalah rambut yang tidak sehat/indah. Kita seperti tidak mengenal atau bahkan mengetahui, bahwa di dunia ini secara lahiriah manusia memiliki warna dan jenis rambut yang beragam.
Mengamati situasi yang demikian ini, kita seakan hidup dalam dunia fantasi. Suatu dunia yang di dalamnya terdapat bayang-bayang semu akan sebuah bangunan ideal tentang kehidupan. Apa yang dahulu kita anggap sebagai nyata atau kehidupan nyata sudah berubah nilai dan proporsinya menjadi sesuatu yang bersifat fiksi. Dan apa yang dahulu kita anggap sebagai fiksi dan fantasi, sudah teranggap menjadi sesuatu yang benar-benar nyata dalam benak kita.
Media secara tidak langsung  telah mengubah cara berfikir kita menjadi demikian. Dan sayangnya kita pun tidak pernah sadar atau berusaha untuk menyadarinya. Kita senantiasa menganggap bahwa apa yang dipakai oleh Anggun C. Sasmi  adalah kenyataan yang harus kita ikuti, dan apa yang ditampilkan oleh Vino G. Bastian adalah keharusan yang perlu kita lakukan. Bahkan tatkala kita dihadapkan pada suatu rutinitas yang membosankan atau pekerjaan yang menumpuk, kita akan senantiasa berdoa dengan me-lafaz-kan, “Semoga mimpi buruk ini segera berakhir!”.
Untuk itu, akan terasa wajar bila seorang Jean Baudrillard mengatakan bahwa, "Apa yang kita anggap sebagai realitas, sejatinya adalah pandangan media terhadap isu tersebut….”. Dengan kata lain, simbol realitas/kenyataan telah menggantikan kenyataan itu sendiri. Dan apa yang ditampilkan oleh media ternyata tidaklah reflektif (cermin kenyataan), dalam pengertian bahwa kenyataan yang tersaji di media dinilai sama dengan kenyataan empirik. Media tidak sekedar menghadirkan fakta atau peristiwa yang berlangsung dalam masyarakat sebagaimana adanya. Justru kenyataan yang tampil di media merupakan hasil konstruksi yang boleh jadi telah mengalami penambahan maupun pengurangan karena turut campurnya faktor subyektif dari pelaku media itu sendiri.

Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BEM JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger