Home » , » DIALOG PANEL BEM-J USHULUDDIN: PROBLEMATIKA MAHASISWA USHULUDDIN

DIALOG PANEL BEM-J USHULUDDIN: PROBLEMATIKA MAHASISWA USHULUDDIN

Written By perbandingan agama on Sabtu, 29 Desember 2012 | 18:38


Dalam rangkaian acara MUSKOM BEM J Perbandingan Agama, mengadakan diskusi panel yang membahas tentang problematika mahasiswa ushuluddin. Dialog ini diikuti oleh seluruh BEM J yang ada di Ushuluddin. Sabtu (01/02).
            Ushuluddin adalahmother of faculty di UIN Bandung. Jika diibaratkan, ushuluddin dahulu seperti macan di UIN. Namun sekarang Ushuluddin kehilangan kehebatannya. Begitupun dalam hal akademik Ezwar, perwakilan BEM J Tafsir Hadist memaparkan “dulu mahasiswa Ushuluddin identik dengan budaya akademiknya. Dominan mahasiswa sekarang lebih senang pada poker, point blank, dengan mengorbankan belajar”. Dia menyayangkan hal itu, sebab penyempitan sosialisasi di kampus akan terjadi.
            Selain itu, kesadaran mahasiswa untuk mengikuti kegiatan BEM J sangat minim. Via, BEM J Tasawuf Psikoterapi mengamini pendapat Ezwar, “ruang diskusi semakin menciut, dengan adanya jejaring sosial dan game” ungkapnya.
Stigma Buruk Mahasiswa Ushuluddin
            Permasalahan selanjutnya adalah ketika fakultas Ushuluddin menjadi pilihan kesekian dari fakultas-fakultas lain yang ada di UIN. Sehingga mahasiswa yang kuliah di Ushuluddin banyak yang asal-asalan. Abdillah, Ketua BEM J Akidah Filsafat menyayangkan hal ini, sebab menurutnya Ushuluddin mempunyai jurusan-jurusan yang tak kalah saing dengan jurusan lain. Abdillah mengatakan bahwa hal ini disebabkan karena stigma yang buruk di masyarakat tentang mahasiswa Ushuluddin ,” stigma di Ushuluddin yang sering muncul ke permukaan ini adalah rambut gondrong, meninggalkan shalat dll. Jika dibiarkan hal ini akan mengakar.” Sehingga yang harus dilakukan saat ini adalah merubah stigma itu sendiri yang bisa dimulai dari kesadaran kita sendiri.
            “Buktikan kepada masyarakat, bahwa Ushuluddin tidak seperti yang orang lain katakan” ungkap Via. Dia juga menyayangkan kalau memang dalam penampilan, mahasiswa Ushuluddin kurang rapih. “Salah satu langkahnya kita harus kembali pada kode etik, dan ketika masih ada yang pakai sandal saat kuliah. Hendaknya itu dikembalikan pada diri sendiri, mau berubah atau tidak” papar Via.
            Lain halnya dengan Via, Ezwar justru mengatakan penampilan bukan hal yang utama “jangan condong kepada hal yang bersifat material, karena penampilan itu tidak terlalu penting, yang penting kan hatinya”.
Kinerja Senat
            Kinerja senat, yang kehadirannya belum terasakan menjadi sorotan semua BEM J Ushuluddin. Senat Ushuluddin belum mampu mengakomodir HMJ Ushuluddin. Via sangat menyayangkan kurangnya partisipasi senat untuk BEM J.
Abdillah menyarankan, hendaknya masyarakat Ushuluddin mampu mempunyai sistem yang mumpuni. Seperti yang abdilah kutip dari pemikiran Bordieu bahwa senat harus mempunyai Kapital simbolik, dimana dalam penerapannya, senat harus mempunyai pengakuan dari mahasiswa.
Kurang Komunikasi Antar BEM J
            BEM J pun tidak lepas dari permasalahan. Komunikasi antar BEM J mulai pudar, seperti pada saat perekrutan mahasiswa “BEM J seolah parebut mahasiswa” ungkap Via.
            Maka dari itu, Ezwar menginginkan peranan BEM J lebih bisa menggiring mahasiswa Ushuluddin. Sehingga mahasiswa Ushuluddin peduli akan kehidupan sosial dan  ilmu-ilmu Ushuluddin. “Proker (program kerja) yang di lendingkan jangan hanya keilmuan, tapi harus juga pada pengaplikasiannya” papar Ezwar.
Permasalahan Kosma
            Permasalahan ini tidak hanya dikaitkan dengan BEM dan Senat, tetapi kosma juga mempunyai peran di bidang jurusan itu sendiri. Sangat disayangkan ketika kosma hanya dijadikan sebagai korban mahasiswa, ketika yang dilakukan kosma hanya membawa absen dan infokus. Abdillah, mengaitkan lagi hal ini dengan filsafat sosial Bordieu tentang Disfunction dimana setiap pemimpin harus mempunyai pembeda. Dan pembeda ini harus dikembalikan pada keberadaan Kosma hingga senat.
            Berkaitan dengan berkurangnya budaya akademik di kalangan mahasiswa Ushuluddin, ini bertentangan dengan visi misi Ushuluddin itu sendiri “Fakultas ushuluddin mencetak mahasiswa yang berfikir dan berwawasan luas. Mahasiswa Ushuluddin tidak taqlid dan semuanya tidak harus sama, dan kita hendaknya menghargai perbedaan. Selain itu, kita juga dicetak untuk menjadi pemimpin. Jadi jangan sampai terceritakan mahasiswa ushuluddin itu taqlid”, papar Ezwar.
Langkah Apa Untuk Problem Ini?
Permasalahan intra mahasiswa ini bisa diperbaiki dengan diskusi “karena diskusi ini akan bersinergis dengan tujuan ekstra seperti senat, dosen, BEM J, dan Kosma” ungkap Abdullah, Ketua BEM J Perbandingan Agama.
            Ketidak sinergisan ini dicontohkan Ezwar, “kami berusaha membangun sinergi antar kosma dan ketua angkatan untuk difungsikan. Sehingga akan mensinergiskan tujuan BEMJ dan masyarakat Tafsir Hadist”.
            Diskusi ini menghasilkan kata kesepakatan dari seluruh BEM J Ushuluddin, yang selanjutkan akan dijadikan proker BEM J dan Senat. Karena hanya solidaritas yang mampu mengembangkan Ushuluddin, sehingga kesepakatan yang diambil adalah “DISKUSI LINTAS JURUSAN PER-BULAN”.[]
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BEM JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger