Home » » Psikologi Kematian

Psikologi Kematian

Written By perbandingan agama on Sabtu, 10 September 2011 | 07:47


Quraish Shihab dalam pengantar buku ini mengatakan bahwa manusia itu pasti akan mati, seperti ayam yang harus keluar dari telurnya untuk menetas dan menjadi ayam dewasa, seperti itulah kehidupan manusia, haruslah keluar dari kehidupan dunia demi mencapai keabadian hidup diakhirat kelak.
Seperti yang diucapkan Chairil Anwar dalam puisinya “aku ingin hidup seribu tahun lagi”, begitupun kita manusia kebanyakan ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini. Karena takut kehilangan keluarga yang dicintainya, tak ingin kenikmatan dunia pergi dengan segera.
Sebagian orang menganggap kematian adalah akhir dari segala-galanya. Makanya mereka mengisi dengan kehidupan hedonis yang menurutnya harus dimanfaatkan untuk mengisi kehidupan yang sementara. Segalanya harus dimiliki sebelum ajal menjemput dan merenggut masa depan. Namun ada juga orang religius yang menganggap bahwa kehidupan ini merupakan kesementaraan. Maka mereka mengisinya dengan kebaikan yang akan mengantar dan bekal bagi mereka di akhirat kelak. Karena kehidupan menurut mereka merupakan sebuah awal, maka mereka harus mempersiapkan bekal yang banyak untuk menghadapi sidang akhirat kelak. Tak perlu bagi mereka mengumpulkan banyak-banyak harta yang memang akan membuat mereka lupa Tuhannya, dan merupakan barang yang tidak akan bisa dibawa sebagai bekal di akhirat kelak.
Tidur merupakan pembelajaran kematian yang amat dalam, seorang manusia diajak menghayati suasana kematian . berbahagialah yang selalu bermimpi indah, itu merupakan pembelajaran nasib kita di akhirat kelak. Apa yang kita lakukan diwaktu siang akan menentukan mimpi kita di malam hari. Karena hidup adalah permaianan sesaat, jawablah segera tawaran peran drama kehidupan lalu berdiri menatap ke muka. Manusia hidup seperti kerikil yang dilempar ke lautan. Kita terlahir lalu menciptakan riak-riak kecil yang akhirnya akan lenyap di muka bumi. Tak ada bekas yang berarti diantara samudra itu.
Maka janganlah menyesali kematian, karena kematian merupakan pintu utama menuju keadilan yang seadil-adilnya. Apa artinya semua perbuatan baik dan buruk kalau tiada cerita dan akibat lanjut setelah datangnya kematian. Kant menjawab, betapa dungu, konyol dan absurdnya dunia manusia kalau nantinya tidak ada serial kehidupan yang baru. Betapa kacau dan menyakitkannya hukum dan drama kehidupan kalau ternyata nasib akhir dari semua orang adalah sama.
Inilah uraian singkat dari buku yang ditulis oleh salah satu dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Komarudin Hidayat. Bahasa yang digunakan dalam buku ini sangat ringan, sehingga dimungkinkan untuk dibaca oleh semua kalangan. Penuturan penulis menyangkut kematian begitu menyadarkan kita betapa mati bukanlah akhir dari segalanya, karena jika kematian adalah akhir tidak ada keadilan sama sekali di dunia ini.
Mari membaca untuk membuka jendela dunia akhirat... 
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BEM JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger