Home » , » Mengapa Selalu Hujan? (Untuk Keberagaman Indonesia)

Mengapa Selalu Hujan? (Untuk Keberagaman Indonesia)

Written By perbandingan agama on Senin, 28 November 2011 | 08:34

“Kenapa selalu hujan, dan tak pernah  lagi purnama, Bunda?”  Tanya seorang anak di pangkuan ibunya.

“Apa karena rembulan terlalu merah, malam begitu pekat, sedangkan dedaunan berwarna sangat hijau? Sehingga mereka saling memusuhi dan membuat langit terus menangis?” lanjutnya dengan cerdik.

Ibu yang selalu bijaksana, sedikit menggeser  tubuh, mencari sandaran, mungkin terlalu berat dengan beban pertanyaan polos puterinya.

“Mungkin, hujan kali ini tak selalu rahmat nak …adakalanya mereka turun tuk memprotes manusia, seperti kita, yang selalu lupa fungsi sebuah malam, mendekaplah, jangan terlalu hanyut dengan kekecewaan langit”. Mengelus rambut buah hatinya, seirama kecemasan jantung yang serentak memojokan segenap sepi, untuk semakin senyap, tapi tak lelap.

“seperti  Indonesia Bunda?” kecerdasannya kembali melompat.

“ Ya, benar, Indonesia yang berjalan tertatih-tatih,  hampir lumpuh, terlalu berat dengan beban do’a-do’a penghuninya, namun untuk mengutuk do’a yang lain, Indonesia yang selalu dijadikan medan perang do’a pemangku kepentingan, do’a yang mengutuk do’a lain, do’a yang saling menjelekkan, do’a yang saling menistakan, pada waktu malam”. Nafasnya sedikit terengah, karena lelah-paparnya.

“Belum cukup Bunda” semakin memancing manja.

“Ya malam yang begitu berat, setelah siang yang saling menyesatkan, saling menekan, roda yang terlalu radikal melindas rumput-rumput samar”. Terhenti sejenak.
“Mereka lupa do’a yang semestinya, mendo’akan dunia dengan segala perniknya, keberagamannya, keperbedaannya, mereka lupa do’a yang merahmat, mereka terlalu mengkafiri orang lain untuk diri sendiri … mereka…mereka…mereka”

“sudahlah, mari kita masuk nak, malam semakin gelap, Indonesia sudah tak begitu nyaman, sekalipun untuk kita”. Tutup Bunda, menggendong puterinya, kembali memasuki lubang gelap, sebuah kuburan, bertuliskan pada nisan : Kojarwati dan Mega (Korban Bom Bali II) Wafat 1 Oktober 2005.



Cirebon, 20 September 2010

Salam Hangat,


Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BEM JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger