Home » , , , » Refleksi Keberagamaan Kaum Minoritas

Refleksi Keberagamaan Kaum Minoritas

Written By perbandingan agama on Sabtu, 11 Februari 2012 | 19:27

warna merah berserakan disetiap penjuru jalan Cibadak,Sabtu(11/02/2012). Sejauh mata memandang, orang-orang beramata sipit berlalu lalang ditengah keramaian pedagang kaki lima. Jalan Cibadak siang itu di penuhi pejalan kaki, tak ada kendaraan yang diizinkan melewat kesana. Muka-muka ceria menghiasi wajah putih mereka, dengan suara latar tabuh-tabuhan khas China suasana ceria semakin terasa. 
Adalah Cap Go Meh, puncak perayaan dari serangkaian tahun baru China yang kami kunjungi. Ada yang mengatakan hari ke 15 setelah tahun baru, tapi kalau saya hitung hari itu hari ke 19. Karena waktu libur nasional menunjukan tanggal 23 sebagai tanggal hari raya imlek.
Di Jalan Cibadak Bandung ini ada panggung utama yang mungkin menjadi salah satu tempat pusat perayaan di Bandung. Panggunnya berada di depan Vihara dewi. Pusat pemberangkatan yang bisa saya lihat adalah dari Vihara Dewi dan Kon Miau (entah tempat apa namun didalamnya saya juga melihat tempat peribadatan).
Acara puncak ini diisi dengan arak-arakan kalau tidak salah sepanjang 30KM. Jalan yang dipenuhi pengunjung itu dipagari oleh orang-orang bermata sipit dengan bergandengan tanga, karena jalan tersebut akan digunakan oleh para peserta yang membawa berbagai aksesoris khas Imlek. Satu persatu, kelompok-kelompok arak-arakan bermunculan dengan berbagai kostum, aksesoris, dan pendekar, dan dewa-dewa. Begitupun sosok Kera sakti dan jajarannya, serta beberapa kostum yang bisa kita lihat difilm-film shaolin dengan membawa bendera-bendera bertuliskan huruf China dan tongkat-tongkat. Ada juga yang mengarak dewa-dewa yang dibawa dengan tandu, ada yang bisa kita perhatikan saat mereka membawa tandu para dewa itu, adalah dengan cara menggoyang-goyangkan tandu tersebut. Konon katanya untuk ritual keseimbangan antara Yin dan Yang. 
Tikak terlewatkan juga Barongsai dan Naga mulai dari yang berukuran kecil sampai yang berukuran panjang dan sangat besar. Menurut legenda, Naga itu diibaratkan sebagai makhluk yang menakutkan yang akan membawa suatu kesialan, dan cara mengusirnya adalah dengan menggunakan bunyi-bunyian. Maka dari itu mereka menggunakan bunyi-bunyian itu untuk mengusir kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi. Mereka juga memberikanangpau kepada para Barongsai itu.
selain di jalan Cibadak, arak-arakan ini juga sampai ke jalan Jendral Soedirman, arak-arakan disini lebih menarik, karena disini lebih banyak peserta. Di jalan ini selain peragaan-peragaan baronsai dari etnis China, ada juga ciri khas budaya sunda, seperti para penari jaipongan, beberapa wayang, dan kelompok kesenian sunda lainnya.
gambar dari sini

Cap Go Meh merupakan acara puncak pemberian angpau, ada yang mengatakan angpau sama halnya dengan zakat yang diberikan oleh umat islam, dimana angpau tidak bisa diterima oleh sembarang orang dan tidak bisa juga diberikan oleh sembarang orang. Ada ritual ibadah dalam hal ini, mereka berkeyakinan dengan memberikan angpau kepada barongsai akan diberikan banyak rizki. 
Etnis China merupakan etnis minoritas di negara kita, namun mereka bisa menjunjung tinggi dan mempertahankan budaya-budaya nenek moyang mereka. Keberagamaan mereka sematkan dalam acara akhir perayaan tahun baru ini. Mereka senantiasa mengingatkan kepada semua orang etnisnya bahwa segala hal harus dimulai dengan semangat yang tinggi, pengorbanan serta memberi. Begitupun dengan mitos-mitos yang mampu mereka pertahankan dalam hal apapun, mereka tidak meninggalkan mitos-mitos yang mereka percayai dalam era modern ini. Dengan adanya berbagai etnis yang merayakan cap go meh ini, bisa dilihat peta kecil keragaman suku dan agama di Indonesia yang bisa saling melengkapi. 
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. BEM JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger